:Tafsir atas Kitab Awur-Awur Angin (bag. 1)
paankbilang.blogspot,Jika ditelusuri dari asal mulanya, demokrasi konon berasal dari kata: demos dan kratos. Demos berarti kekuasaan dan kratos berarti rakyat. Silakan disambung sendiri. Secara tersirat, kitab Awur-Awur Angin, kitab pegangan organisasi Mata~GHaib yang tersohor itu, memandang bahwa demokrasi merupakan satu diantara (sekurang-kurangnya) empat teknik yang lazim digunakan oleh para pemilik modal untuk memastikan status quo sebagai pengeruk kekayaan publik secara sistematis, massive, dan langgeng. Demokrasi dipakai para pemilik modal (baca: bankir) sebagai mesin kekuatan politik.Nietzche bilang: demokrasi hanyalah instrument politik untuk mengkonsolidasikan mediokrasi secara kokoh dan ampuh.Demokrasi mencegah lahirnya manusia-manusia bermutu, dan pemimpin-pemimpin sejati. Pernyataan ini saya tafsir berdasar Kitab Awur-Awur Angin Bab IV (Dadi Wong Ojo Bedur – Jadi orang jangan cuma senang tidur-red) yang dalam bahasanya (translate bahasa Indonesia) disebut: “Demokrasi adalah panggung dimana para Petruk hendak jadi Ratu. Demokrasi adalah jalan tol bagi (para) kere (untuk) munggah bale.
Ini mungkin pendapat sinis tentang demokrasi. Tetapi (saya yakin) anda sudah kenyang dengan fenomena belakangan ini. Ruang Publik kita sudah penuh sesak oleh seribu satu wajah orang-orang yang hendak bertarung “berebut” kursi kekuasaan. Mereka muncul seperti serangga di musim hujan yang sekonyong-konyong menyeruak dan bersliweran di muka kita. Nyatanya (kecuali segelintir tokoh teras partai politik dan selebritis) masyarakat tak mengenali mereka. Kita juga tidak mengetahui rekam jejak, prestasi, kompetensi, serta keterlibatan mereka (yang sebenarnya) dalam masyarakat sebelum masa kampanye. Reputasi mereka pada umumnya: Gelap gulita.
Dasar yang saya pikir menjadi alasan mereka berani “menawarkan diri” menjadi wakil rakyat hanya satu. Apa itu? Klaim. Bersamaan dengan sekonyong-konyongan kemunculan mereka itulah klaim para politisi dadakan ini bertaburan:
memperjuangkan rakyat, bersih dan peduli, membela dan memberdayakan perempuan, pendidikan gratis, sembako murah,…dan seribu janji lainnya. Seribu satu orang dengan seribu janji, tanpa ada perbedaan hakiki. Demokrasi adalah Anybody chosen everybody. Asal dipilih banyak orang Petruk pun bisa jadi ratu.
Peran ideologi dalam demokrasi pun hanya jadi jargon belaka. Yang terjadi sesungguhnya: demokrasi menjadi ajang para politisi mencari sesuap nasi (dan semangkuk berlian). Kampanye politik tak ubahnya investasi yang (celakanya) bukan hanya menjadi semakin tidak murah, tapi juga tak selalu membawa untung. Karena tidak semua calon akan menang. Yo to?
Sebut saja dalam pemilihan wakil rakyat. Kalkulasi kebutuhan modal seorang caleg untuk meraih posisi yang diinginkannya, dibanding dengan total pendapatan resmi yang bakal diperoleh selama menjadi anggota DPR atau DPRD… kebanyakan tidak masuk hitungan. Belum lagi biaya politik yang harus dibayar terus menerus oleh para politisi ini kepada partainya selama menjabat. Pie pendapatmu?
Bersambung…
jika anda suka dengan blog ini, dan, jangan lupa ninggalin comment sama isi buku tamu yaa







0 comments:
Post a Comment
Semoga dengan ini, hidup kita semakin lebih baik